Fenomena La Nina Akan Terjadi di Indonesia, Apa Itu?

| | 0 Comments

Fenomena La Nina dikabarkan akan terjadi di Indonesia. Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supari mengingatkan masyarakat akan terjadinya fenomena La Nina.

La Nina sendiri merupakan peristiwa di mana terjadi penurunan suhu permukaan laut di samudera pasifik bagian timur.

Peristiwa ini menyebabkan peningkatan kecepatan angina pasat timur yang bertiup di sepanjang samudera pasifik.

La Nina, Apa Itu?

“Berdasarkan analisis dari potret data suhu permukaan laut di Pasifik. Saat ini La Nina sudah teraktivasi di Pasifik Timur,” ujar Supari

Ia mengatakan bahwa fenomena ini dapat memicu frekuensi dan curah hujan yang jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, bisa meningkatkan potensi banjir, tanah longsor, dan banjir bandang.

Lalu, apa saja hal yang terkait dengan fenomena La Nina? Berikut penjelasannya.

1.Berdampak Pada Cuaca

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supari mengingatkan masyarakat Indonesia terkait fenomena La Nina yang akan terjadi di Indonesia.

La Nina merupakan peristiwa dimana terjadi penurunan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian timur, yang menyebabkan peningkatan kecepatan angin pasat timur yang bertiup di sepanjang samudera pasifik.

“Berdasarkan analisis dari potret data suhu permukaan laut di Pasifik. Saat ini La Nina sudah teraktivasi di Pasifik Timur,” ujar Supari.

Supari mengatakan, fenomena La Nina akan menyebabkan bencana hidrometeorologi. Namun, dampak tersebut sangat bergantung pada musim dan bulan, wilayah serta intensitasnya.

“La Nina akan berdampak pada anomali cuaca yang berujung pada bencana hidrometeorologi,” kata Supari.

2.Waspadai Potensi Bencana

Supari juga mengingatkan bahwa La Nina bisa memicu frekuensi dan curah hujan yang jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, potensi banjir, tanah longsor, dan banjir bandang dapat terjadi.

“La Nina membuat curah hujan akan naik. Bahkan sampai bulan April 2021. Potensi bencana yang ditimbilkan harus diwaspadai oleh masyarakat,” ujar dia.

Menyikapi fenomena ini, Supari menyampaikan perlunya kewaspadaan terhadap kondisi hujan di atas normal pada 20 hari pertama bulan Oktober 2020.

3.Curah Hujan Naik HIngga 40%

BMKG memprediksi hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan iklim La-Nina sedang berkembang.

Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir dengan nilai anomali telah melewati angka -0.5°C, yang menjadi ambang batas kategori La Nina.

“Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut masing-masing adalah -0.6°C pada Agustus, dan -0.9°C pada September 2020,” kata Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Herizal kepada wartawan, Sabtu, 3 Oktober 2020.

Dia menambahkan, BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir 2020.

Diperkirakan akan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021. “Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40 persen di atas normalnya,” kata Herizal.

Itulah seputar informasi mengenai fenomena La Nina yang diperkirakan akan terjadi di Indonesia. Bagaimana menurutmu? Apakah fenomena ini akan berbahaya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *