Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau, Ini Penjelasan LAPAN

| | 0 Comments

Cuaca ekstrem merupakan salah satu bencana alam yang membuat manusia takut. Baik itu cuaca dingin maupun panas.

Tentu saja cuaca ekstrem seperti ini selalu membawa dampak kerusakan hebat yang membuat manusia bergidik ngeri.

Misalnya saja cuaca panas yang ekstrem bisa membuat kulit terasa terbakar dan membuat kepala pusing.

Penjelasan LAPAN Soal Cuaca Ektrem

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebutkan bahwa cuaca ekstrem berupa hujan deras disertau hail (es) dan angina kencang dalam durasi singkay, terjadi pada beberapa hari terakhir di sejumlah wilayah di Jawa Barat.

Maraknya cuaca ekstrem yang terjadi pada Agustus ini, yang seharusnya masih merupakan musim kemarau, terjadi karena adanya beberapa factor.

Menurut peneliti Sains Atmosfer LAPAN Erma Yulihastin, salah satu factor pemicu hal itu adalah factor regional berupa penghangatan suhu permukaan laut di selatan Samudera Hindia serta perairan Maluku.

Ia juga mengatakan bahwa penghangatan suhu permukaan laut tersebut saat ini terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

“Meskipun demikian konsentrasi domain (area) pemanasan suhu tertinggi terjadi di perairan Maluku dan sekitarnya, serta perairan selatan Samudra Hindia,” ujar Erma pada Kamis 13 Agustus 2020.

Ia juga menuturkan bahwa kedua wilayah tersebut memang telah dibuktikan melalui penelitian Xu dan kawan-kawan pada 2020, yang merupakan wilayah sensitive terhadap kemarau basah di Indonesia.

Ia juga menjelaskan dalam penelitiannya pada tahun yang sama kemarau basah yang dipicu oleh factor regional diteliti memiliki dampak yang homogeny, merata, dan lebih sering memunculkan pembentukan cuaca ekstrem dibandng kemarau basah akibat factor global.

Factor yang kedua, menurut Erma, pembentukan front maupun pertemuan massa udara lembab dan kering yang terjadi saat ini di berbagai wilayah, dan terkonsentrasi di kawasan Jabar-Sumatera dan Maluku-Sulawesi.

Front massa udara dingin yang berasal dari Australia, karena pengaruh monsun musim dingin Australia bertemu dengan udara lembab yang berasal dari perairan local di Indonesia.

Hal ini memicu aktivitas kinektif dan hujan skala loka yang jaraknya kurang dari 5 km. kejadian ini juga sering terjadi di kawasan pesisir.

Hal ini bisa menimbulkan penampakan awan-awan konvektif yang bisa diketahui dengan mudah melalui pengamatan visul seperti awan tsunami yang beberapa hari lalu terjadi di pesisir barat Aceh pada 10 Agustus 2020 kemarin. Awan itu menyerupai smong atau gelombang tsunami yang muncul di atas langit.

Awan tersebut juga pernah muncul di sekitar Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar pada hari pertama 2019.

Awan itu sangat lazim terjadi dan dikenal dengan nama Arcus atau Shelf Cloud. Awan ini bagian dari awan Cumulonimbus yang membentuk landasan dan gulungan awan di depannya.

Awan ini membawa potensi hujan lebat disertai angina kencang. Untuk periode luruhnya awan tersebut tergantung besarnya, bisa mencapai 1 hingga 2 jam.

“Kedua faktor tersebut merupakan pembangkit cuaca ekstrem yang diprediksi lebih sering terjadi menjelang akhir Agustus.” Kata Erma.

“Selain itu, pada bulan September, wilayah Indonesia diprediksi akan lebih basah dan lebih sering mengalami hujan sehingga potensi terjadinya hujan dengan intensitas yang lebih tinggi dan persisten pun akan meningkat,” lanjutnya.

Dengan kata lain, cuaca ekstrem pada bulan-bulan mendatang mungkin tak hanya bersifat local dimana jaraknya kurang dari 5 km, namun meluas dalam skala meso yang mencangkup puluhan hingga ratusan kilometer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *