Home » 2020 » Oktober

Monthly Archives: Oktober 2020

Gejala Asma Bisa Kambuh Karena Cuaca Dingin. Bagaimana Mengatasinya?

Asma merupakan jenis penyakit jangka panjang atau kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran nafas yang menimbulkan sesak atau sulit bernapas.

Selain sulit bernapas, penderita asma juga bisa mengalami gejala lain seperti nyeri dada, batuk-batuk, dan mengi. Asma bisa diderita oleh semua golongan usia, baik muda atau tua.

Meskipun penyebab pasti asma belum diketahui secara jelas, namun ada beberapa hal yang kerap memicunya, seperti asap rokok, debu, bulu binatang, aktivitas fisik, udara dingin, infeksi virus, atau bahkan terpapar zat kimia.

Bagi seseorang yang memiliki penyakit asma, saluran pernapasannya lebih sensitif dibandingkan orang lain yang tidak hidup dengan kondisi ini.

Ketika paru-paru teriritasi pemicu di atas, maka otot-otot saluran pernapasan penderita asma akan menjadi kaku dan membuat saluran tersebut menyempit. Selain itu, akan terjadi peningkatan produksi dahak yang menjadikan napas terasa berat.

Ada dua tujuan dalam pengobatan penyakit asma, yaitu meredakan gejala dan mencegah gejala kambuh.

Untuk mendukung tujuan tersebut, diperlukan rencana pengobatan dari dokter yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

Rencana pengobatan meliputi cara mengenali dan menangani gejala yang memburuk, serta obat-obatan apa yang harus digunakan.

Penting bagi pasien untuk mengenali hal-hal yang dapat memicu asma mereka agar dapat menghindarinya. Jika gejala asma muncul, obat yang umum direkomendasikan adalah inhaler pereda.

Cara Mencegah Gejala Asma Karena Cuaca Dingin

Cara Mencegah Gejala Asma Karena Cuaca Dingin

Bagi penderita asma, cuaca atau udara yang dingin bisa menjadi petaka. Gejala asma bisa saja kambuh karena adanya paparan udara dingin.

Udara dingin umumnya mengandung kelembaban yang lebih sedikit dan bisa membuat paru-paru berkontraksi.

Akibatnya, saluran udara bisa menegang dan memicu serangan asma, yang juga bisa melibatkan batuk.

Udara dingin juga bisa memicu nyeri dada pada penderita asma. Tak jarang, gejala semacam itu bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Lalu, bagaimana cara mencegahnya?

Langkah pertama untuk mengatasi serangan asma akibat udara dingin adalah melakukan pencegahan.

Selain rutin mengonsumsi obat yang diberikan dokter, pastikan kita tetap berada di dalam ruangan yang hangat selama cuaca dingin.

Selain itu, kita juga bisa melakukan langkah berikut ini:

1.Perbanyak Minum Air Putih Saat Cuaca Dingin

Perbanyak Minum Air Putih Saat Cuaca Dingin

Memperbanyak minum air putih membantu lendir di paru-paru tidak menggumpal dan mudah dikeluarkan oleh tubuh.

2.Hindari kontak dekat dengan orang yang sakit

Hindari kontak dekat dengan orang yang sakit

Orang yang sakit bisa saja membawa virus atau bakteri yang meningkatkan risiko kita mengalami gejala asma.

3.Lakukan Vaksin Flu

Lakukan Vaksin Flu

Vaksin flu sangat penting dilakukan menjelang cuaca dingin untuk menghindari infeksi influenza. Pasalnya, infeksi flu juga bisa memicu seragan asma.

4.Jaga kebersihan rumah

Jaga kebersihan rumah

Menjaga kebersihan rumah sangat penting agar tidak ada debu atau allergen yang bisa memicu gejala asma. Cara terbaik mencegah gejala asma yang kabuh saat cuaca dingin adalah menghindari aktivitas di luar ruangan.

Jika terpaksa beraktivitas di luar, gunakan pakaian yang hangat seperti syal, topi, dan jaket. Jangan lupa juga kenakan penutup hidung dan mulut agar saluran pernapasan tidak terpapar udara dingin.

Selain langkah tersebut, kita juga harus menggunakan inhaler 15 sampai 30 menit sebelum beraktivitas di tengah dinginnya cuaca.

Cara ini berfungsi untuk membuka salurah udara agar mempermudah pernapasan. Usahakan agar tak boleh lupa membawa inhaler untuk berjaga-jaga kambuhnya serangan asma mendadak.

Selain itu, lakukan pemanasan 10 – 15 menit sebelum melakukan aktivitas fisik di saat cuaca sedang dingin.

Perubahan Cuaca Bisa Mempengaruhi Kondisi Tubuh Manusia?

Perubahan cuaca yang ekstrem bisa mempengaruhi kondisi tubuh manusia. Jika kalian yang selama ini tinggal di kawasan tropis namun tiba-tiba harus tinggal di suhu dingin, maka akan terjadi perubahan yang berdampak buruk.

Begitu juga dengan kalian yang biasa tinggal di cuaca dingin dan pindah ke wilayah yang super panas, maka pengaruh buruk akan dirasakan.

Kondisi Tubuh Yang Berubah Akibat Perubahan Cuaca

Walaupun tinggal di wilayah yang mengalami perbedaan cuaca terdengar menyenangkan, namun tubuh akan merespon lain.

Nah, di bawah ini ada beberapa kondisi tubuh yang bisa berubah akibat adanya perubahan cuaca. Yuk simak baik-baik.

1.Anggota Tubuh Kalian Mungkin Membengkak

Di hari yang sangat panas dan lembab, tubuh kalian bisa mengalami masalah pendinginan sendiri. Biasanya, kondisi ini akan mengarahkan darah hangat ke permukaan kulit tempat ia mendingin dengan berkeringat.

Namun pada suhu panas, keringan tidak menguap sehingga cairan terkumpul di anggota tubuh kalian, membuatnya membengkak.

Yang harus kalian lakukan adalah, dinginkan dengan cara lain seperti kipas angina atau dehumidifier. Setelah beberapa hari tubuh kalian akan terbiasa dengan cuaca panas dan pembengkakan akan hilang.

2.Kalian Bisa Memiliki Risiko Lebih Tingg Terkena Serangan Jantung

Cuaca ekstrem dapat membuat jantung kalian tegang. Suhu dingin membuat jantung bekerja lebih keras untuk menjaga tubuh tetap hangat namun itu juga menyebabkan pembuluh darah menyempit dan menurunkan pengiriman oksigen ke jantung itu sendiri.

Ketidakcocokan ini akan berakhir secara dramatis dalam serangan jantung atau stroke. Hal yang sama juga berlaku untuk salju dan angin.

Yang harus kalian lakukan adalah menghindari kelelahan jangan terlalu banyak bekerja secara fisik dan kepanasan.

3.Rambut dan Kuku Terpengaruh

Di musim dingin, rambut dan kuku kalian akan menghadapi masalah yang sama dengan kulit kalian. Pembuluh darah menjadi sempit dan supply nutrisi dan oksigen berkurang.

Tentu saja hal ini akan melemahkan rambut dan kuku, membuatnya kering dan rapuh, serta lebih rentan terhadap luka.

Yang harus dilakukan adalah mandi tidak lebih dari 5 – 10 menit dalam air hangat (bukan panas). Lembabkan dan jangan menggunakan sabun yang keras.

Jangan terlalu bersemangat saat mencuci tangan. Gunakan sedikit shampoo dan gunakan lebih banyak conditioner.

4.Kalian Mungkin Mengalami Nyeri Sendi

Ada benarnya bagi mereka yang mengklaim bahwa aka nada perubahan yang dirasakan pada tulang mereka.

Penurunan tekanan barometric bisa membuat persendian menjadi sakit, terutama untuk para penderita artritis.

Cairan yang ada di dalam persendian menjadi lebih kental pada suhu rendah, sehingga tulang kita terasa lebih kaku.

Cuaca dingin juga akan mengencangkan otot da tendon karena aliran darah dialihkan dari anggota tubuh ke organ pusat untuk menjaganya tetap hangat.

Yang harus dilakykan adalah tetap hangat agar mendorong aliran darah, meningkatkan toleransi rasa sakit, serta mengurangi kerja otot. Rutinitas olahraga juga akan menangkis rasa sakit dan kekakuan.

5.Alergi Bisa Terjadi

Cuaca dapat mempengaruhi alergi musiman, menyebabkan mata berair pada hari-hari yang berangin, hidung tersumbat saat hujan, dan masih banyak lagi. Cuaca tertentu bisa memicu proses alami seperti penyerbukan pohon, yang membuat kita alergi.

Sistem kekebalan akan menganggap semua jamur dan serbuk sari itu tidak aman dan mengaktifkan mekanisme pertahanan seperti gatal, pilek, dan bersin.

Tak satu pun dari hal ini yang berbahaya, namun tidak akan menyenangkan jika kita terpapar alergi bukan?

Yang harus kita lakukan adal;ah mempelajari kapan jamur dan musim serbuk sari memuncak di daerah kalian dan hindari aktivitas di luar ruangan selama waktu tersebut. Gunakan dehumidifier dan AC untuk menyaring udara dan menangkal allergen.

Itulah 5 hal yang bisa terjadi jika tubuh kita terkena cuaca yang ekstrem. Semoga artikel ini bermanfaat.

Luhut Khawatir Kasus Covid-19 Semakin Melonjak Akibat Cuaca Ekstrem

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan meminta agar Kementrian Kesehatan mewaspadai perubahan cuaca yang bisa menggagu penanganan pasien Covid-19.

Ia khawatir akan ada kluster baru dalam penyebaran virus corona yang diakibatkan oleh perubahan cuaca ekstrem.

Luhut Khawatir Kasus Covid-19 Semakin Melonjak Akibat Cuaca Ekstrem

“Tiga bulan ke depan kita harus bersiap dengan perubahan cuaca yang ekstrim, ditakutkan akan timbul klaster baru karena faktor tersebut.” Kata Luhut dalam Rapat Koordinasi (Rakor) virtual tentang penanganan Covid-19 di Wisma Atlet, Jakarta Pusat.

Selain kemetrian kesehatan, Luhut juga meminta jajaran RS Darurat Wisma Atlet untuk siaga dan bersiap. Sebab perubahan cuaca ini bisa menimbulkan penyakit demam berdarah (DBD) yang disebut memiliki gejala yang mirip dengan pasien terjangkit virus corona.

“Kita harus mampu mengakomodir keduanya juga, jangan sampai satu orang terjangkit keduanya” kata Luhut.

Selain memperingatkan tentang sistematika pencegaha tersebut, ia mengingatkan kepada Wisma Atlet untuk terus menjaga kedisiplinan mereka yang sudah baik. Alasannya, banyak pasien yang sembuh setelah menjalani perawatan di RSD Wisma Atlet.

“Angka kesembuhan yang tinggi di wisam atlet ini harus dipertahankan, juga bisa menjadi rujukan bagi RS lainnya.” Katanya mengakhiri.

Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan agar perusahaan farmasi tidak memasang harga tinggi pada produk obat Covid-19.

“Kalbe Farma, Bio Farma, Indofarma dan perusahaan farmasi lainnya saya minta jangan buat harga yang terlalu tinggi,” kata Luhut dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Ketersediaan dan Kewajaran Harga Obat/Farmasi untuk Covid-19.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi ini meminta harga obat tersebut dijual dengan harga wajar dan mengedepankan aspek kemanusiaan.

Apalagi saat ini kondisi ekonomi masyarakat sedang mengalami kesulitan sebagai dampak dari penyebaran virus corona.

Pemerintah telah mengumpulkan data mengenai harga obat Covid-19 berbasis Free on Board. Saat ini Luhut telah mengantongi harga barang produk tersebut dari negara-negara eksportir seperti India, Tiongkok, dan Jerman.

“Database ini akan digunakan untuk mengevaluasi kewajaran harga obat-obatan Covid-19 yang ada di pasar,” kata dia.

Dalam hal ini, Luhut memerintahkan langsung Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto untuk mengawasi penjualan obat Covid-19 dengan ketat.

“Saya minta pak Terawan untuk mengawasi secara ketat hal ini.” Sambung Luhut. Kebijakan ini sangat perlu dilakukan.

Khususnya untuk obat-obatan yang bahan bakunya masih diimpor dari luar negeri atau obat yang masih belum mampu diproduksi dalam negeri.

Ia meminta Kementrian Kesehatan untuk mengecek kembali harga di pasaran. Termasuk mendata jenis obat yang bisa segera diproduksi dalam negeri.

Kementrian Kesehatan juga harus memastikan daftar slot88 ketersediaan obat-obatan tersebut paling tidak hingga akhir tahun ini.

Sebab, laporan yang diterima oleh Luhut, masih ditemukan beberapa rumah sakit yang mengalami kesulitan untuk memperoleh Favipiravir, Remdesivir, dan Actemra.

“Saya ingin agar kelangkaan ini bisa segera diselesaikan. Saya akan cek secara regular terkait hal ini, pokoknya jangan sampai ada orang mati karena tidak memperoleh obat tepat waktu” katanya.

Selain itu, ia juga meminta Kementrian BUMN ikut memastikan ketersediaan obat-obatan untuk pasien terjangkit virus corona.

Ia tak mau lagi ada masalah pemesanan ganda. Ia mengingatkan agar kementrian BUMN ikut melakukan sinkroniasi kebijakan pemesanan obat antara pemerintah pusat dan daerah.

“Saya melihat Kemenkes sudah mengalokasikan anggaran untuk ini, namun pemerintah daerah melalui APBD juga menganggarkan. karena itu, perlu ada sinkronisasi anggaran antara pusat dan daerah dalam pengadaan obat ini.” Kata Luhut mengakhiri.

Fenomena La Nina Akan Terjadi di Indonesia, Apa Itu?

Fenomena La Nina dikabarkan akan terjadi di Indonesia. Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supari mengingatkan masyarakat akan terjadinya fenomena La Nina.

La Nina sendiri merupakan peristiwa di mana terjadi penurunan suhu permukaan laut di samudera pasifik bagian timur.

Peristiwa ini menyebabkan peningkatan kecepatan angina pasat timur yang bertiup di sepanjang samudera pasifik.

La Nina, Apa Itu?

“Berdasarkan analisis dari potret data suhu permukaan laut di Pasifik. Saat ini La Nina sudah teraktivasi di Pasifik Timur,” ujar Supari

Ia mengatakan bahwa fenomena ini dapat memicu frekuensi dan curah hujan yang jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, bisa meningkatkan potensi banjir, tanah longsor, dan banjir bandang.

Lalu, apa saja hal yang terkait dengan fenomena La Nina? Berikut penjelasannya.

1.Berdampak Pada Cuaca

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supari mengingatkan masyarakat Indonesia terkait fenomena La Nina yang akan terjadi di Indonesia.

La Nina merupakan peristiwa dimana terjadi penurunan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian timur, yang menyebabkan peningkatan kecepatan angin pasat timur yang bertiup di sepanjang samudera pasifik.

“Berdasarkan analisis dari potret data suhu permukaan laut di Pasifik. Saat ini La Nina sudah teraktivasi di Pasifik Timur,” ujar Supari.

Supari mengatakan, fenomena La Nina akan menyebabkan bencana hidrometeorologi. Namun, dampak tersebut sangat bergantung pada musim dan bulan, wilayah serta intensitasnya.

“La Nina akan berdampak pada anomali cuaca yang berujung pada bencana hidrometeorologi,” kata Supari.

2.Waspadai Potensi Bencana

Supari juga mengingatkan bahwa La Nina bisa memicu frekuensi dan curah hujan yang jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, potensi banjir, tanah longsor, dan banjir bandang dapat terjadi.

“La Nina membuat curah hujan akan naik. Bahkan sampai bulan April 2021. Potensi bencana yang ditimbilkan harus diwaspadai oleh masyarakat,” ujar dia.

Menyikapi fenomena ini, Supari menyampaikan perlunya kewaspadaan terhadap kondisi hujan di atas normal pada 20 hari pertama bulan Oktober 2020.

3.Curah Hujan Naik HIngga 40%

BMKG memprediksi hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan iklim La-Nina sedang berkembang.

Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir dengan nilai anomali telah melewati angka -0.5°C, yang menjadi ambang batas kategori La Nina.

“Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut masing-masing adalah -0.6°C pada Agustus, dan -0.9°C pada September 2020,” kata Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Herizal kepada wartawan, Sabtu, 3 Oktober 2020.

Dia menambahkan, BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir 2020.

Diperkirakan akan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021. “Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40 persen di atas normalnya,” kata Herizal.

Itulah seputar informasi mengenai fenomena La Nina yang diperkirakan akan terjadi di Indonesia. Bagaimana menurutmu? Apakah fenomena ini akan berbahaya?